Apabila Fitnah Menggelombang

Syaqiq r.a. bercerita, katanya : "Aku mendengar Hudzaifah berkata, pada suatu hari ketika kami duduk dekat Umar r.a. Dia berkata, "Siapakah di antara anda semua yang masih ingat sabda Rasulullah saw. tentang fitnah?'.

Jawabku, "Aku! Aku masih ingat, tepat sebagaimana yang beliau sabdakan".
Kata Umar, "Anda tak sangsi? Betulkah itu?".
Jawabku, "Fitnah (kesalahan) seorang laki-laki dalam keluarganya, hartanya, anaknya dan tetangganya dihapuskan oleh shalat, puasa, sedekah dan oleh amar ma'ruf serta nahi mungkar".
Kata Umar, "Bukan itu yang aku maksudkan. tetepi fitnah yang menggelombang seperti gelombang laut".
Jawab Hudzaifah, "Ya, Amirul Mu'minin! 1) Anda tidak usah gelisah mengenai hal itu. Karena antara antara anda dan fitnah itu ada pintu yang terkunci rapat". 2)
Kata Umar, "Apakah pintu itu dipecah atau dibuka orang?".
Jawab Hudzaifah, "Akan pecah".
Kata Umar, "Kalau sudah pecah, tentu tak dapat dikunci lagi untuk selama-lamanya".
Kami (Syaqiq dkk.) bertanya kepada Hudzaifah, "Apakah Umar tahu pintu itu?".
Jawab Hudzaifah, "Ya, dia tahu sebagaimana dia tahu bahwa malam ini terjadi sebelum besok pagi. Dan aku telah menceritakan kepadanya hadis yang tidak mengandung kesalahan.
Kata Syaqiq, "Kami takut akan bertanya lagi kepada Hudzaifah perihal pintu itu, maka kami suruh Masruq bertanya.
Jawab Hudzaifah, "Pintu itu ialah Umar sendiri".

Keterangan :
1). Amirul Mukminin, artinya : raja orang-orang yang beriman.
2). Fitnah yang dimaksud disini ialah kekalutan dan kekacauan  yang bakal terjadi dalam pemerintahan kaum Muslimin sesudah wafat Rasulullah saw., sebagaimana pernah dinyatakan beliau dalam hadisnya. Hal itu terjadi sesudah pemerintahan Umar bin Affan. Kejadiannya, karena ulah si munafik Abdullah bin Saba' (seorang Yahudi) yang selalu menghasut Bani Umayyah dan Bani Hasyim supaya berebut tampuk pemerintahan, maka keduanya saling gontok-gontokan dan antara lain berakibat terbunuhnya Usman bin Affan, Khalifah ketiga. Semenjak itu perang antara sesama umat Islam sering terjadi dan umat Islam terpecah belah.
Selama pemerintahan Abu Bakar dan Umar bencana itu dapat dibendung dan dikendalikan, Umar dengan segala kebijaksanaan dan kewibawaannya dapat mengunci rapat pintu pemerintahannya supaya fitnah itu tidak dapat menyusup ke dalam pemerintahannya. Namun pintu itu pecah dengan terbunuhnya Umar bin Khathab), dan setelah itu fitnah itu datang menggelora bagaikan banjir, tidak dapat dibendung lagi.

No comments:

Post a Comment